WHO Peringatkan Vaksin Takkan Cukup untuk Kembalikan Kehidupan Normal Hingga 2022

Rabu, 16 September 2020, 17:35 WIB
27
Hasil dari beberapa uji klinis vaksin Covid-19 diharapkan awal tahun depan.
Hasil dari beberapa uji klinis vaksin Covid-19 diharapkan awal tahun depan.

Edisi88 – Ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Soumya Swaminathan, memperkirakan bahwa vaksin COVID-19 tidak akan cukup untuk mengembalikan kehidupan normal hingga tahun 2022.

Swaminathan mengatakan bahwa inisiatif WHO untuk melaksanakan proyek Covax, mekanisme untuk mendistribusikan vaksin secara merata ke negara-negara dengan penghasilan rendah, hanya akan bisa menydian ratusan juta dosis pada pertengahan tahun depan, yang berarti beberapa dari 170 negara akan memiliki lebih banyak karena kekuatan ekonomi mereka.

Jumlah dosis yang ada terlalu sedikit untuk mengubah keharusan social distancing dan mengenakan masker hingga produksi ditingkatkan dan mencapai tujuan 2 miliar dosis pada akhir tahun 2021 mendatang.

“Cara orang-orang menggambarkannya bahwa pada bulan Januari nanti Anda akan memiliki vaksin untuk seluruh dunia dan keadaan akan segera kembali berjalan normal, bukan seperti itu caranya,” kata Swaminathan pada hari Selasa (15/9) kemarin.

“Penilaian terbaik kami [untuk vaksin terdistribusikan] adalah pada pertengahan tahun 2021, karena awal tahun 2021 adalah saat Anda mulai melihat hasil dari beberapa uji klinis ini.”

Namun demikian, Cina memberikan linimasa yang jauh lebih agresif. Pada hari Selasa kemarin, Wu Guizhen dari Pusat Penanganan dan Pengendalian Penyakit (CDC) mengatakan bahwa masyarakat Cina akan memiliki vaksin lokal secepat-cepatnya pada bulan November atau Desember mendatang.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga telah berjanji untuk menghadirkan vaksin sesegera mungkin, yang meningkatkan kecemasan bahwa para regulator Amerika Serikat mungkin akan tunduk kepada tekanan politik dan isu penggunaan darurat yang diizinkan secara prematur.

Swaminathan mengatakan bahwa WHO berencana untuk menerbitkan panduan untuk penggunaan darurat vaksin pada pekan depan.

“Semua uji klinis yang sedang berjalan diikuti oleh setidaknya 12 bulan lagi, jika tidak lebih lama. Itulah waktu yang Anda perlukan untuk memastikan bahwa Anda tidak memiliki dampak jangka panjang yang buruk setelah penggunaan selama beberapa pekan,” katanya.

“Karena ini adalah pandemi maka itu memungkinkan bagi para regulator untuk menerapkan penggunaan darurat, yang memang bisa dipahami, namun ada beberapa kriteria untuk itu,” tambahnya. “Yang ingin kami lihat adalah kemanjuran, namun yang paling penting adalah keamanan.”

Dia mengatakan bahwa Administrasi Makanan dan Obat-Obatan (FDA) Amerika Serikat harusnya menerbitkan panduan penggunaan darurat vaksin dalam waktu dekat.

Cina sudah menggunakan tiga buah vaksin kepada warga sipilnya di bawah izin penggunaan darurat sejak bulan Juli lalu, dan sebuah vaksin untuk militer pada bulan Juni lalu.

Seorang petugas senior dari perusahaan raksasa farmasi milik negara mengatakan dalam sebuah wawancara pada bulan ini bahwa ratusan ribu orang Cina sudah menerima vaksin pada saat ini.

Ketika ditanyakan perihal situasi yang terjadi di Cina dan Amerika Serikat, Swaminathan mengatakan: “Regulator nasional memiliki otoritas untuk melaksanakannya selama berada di daerah wewenang mereka.”

Namun dia menambahkan bahwa mereka seharusnya menerapkan deadline untuk perusahaan-perusahaan untuk mempersembahkan data, dan juga izin penggunaan darurat bisa dicabut jika hasil dari uji klinis tahap akhir tidak memenuhi persyaratan.

Sementara itu, Marie-Ange Saraka-Yao, seorang direktur pengelola dari aliansi vaksin global Gavi, mengatakan bahwa negosiasi antara Cina dan aliansi masih terus berlanjut agar Negeri Tirai Bambu tersebut bersedia bergabung dengan Covax, hanya beberapa hari sebelum deadline untuk negara-negara menandatanganinya pada tanggal 18 September mendatang.

Meskipun Gedung Putih telah mengumumkan bahwa Amerika Serikat tidak akan bergabung, namun dia mengatakan bahwa negosiasi masih terus berjalan.

Ketiadaan Amerika Serikat dan Cina, dua pemain besar dalam pengembangan vaksin, telah menimbulkan pertanyaan seputar rencana ini. Sejauh ini, ada 84 perekonomian yang telah bergabung dengan aliansi, di antara mereka adalah 44 negara dengan pendapatan tinggi, 39 negara dengan pendapatan menengah ke atas, dan 92 negara dengan pendapatan rendah.